Kesehatan Petani, Ketersediaan & Keadilan Harga Pangan Di Tengah Pandemi Covid 19

Alumni Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada
Pendiri Social Movement Aku Petani Indonesia
Presiden Mahasiswa Universitas Gadjah Mada 2014
Ketua Departemen Pertanian, Perikanan & Agribisnis KAHMI Kab. Gresik 2018 – 2023
Alumni Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada
Pendiri Aku Petani Indonesia
Kadep Pertanian KAHMI MW Gresik

Virus Corona atau Covid-19 semakin hari semakin menyebar ke seluruh penjuru Negeri ini. Penyebarannya pun sangat cepat dan mudah. Jumlah kasus orang positif terus meningkat pula jumlahnya. Virus jenis ini ternyata menyerang pada semua golongan umur, banyak juga orang-orang dengan usia produktif bahkan atlet-atlet professional yang terkena dampaknya. Beberapa himbauan dan protokol dari Instansi Pemerintah juga terus di sosialisasikan. Tentu himbauan tersebut memiliki banyak dampak di masyarakat. Salah satunya adalah ketersediaan pangan.

Tidak sedikit orang yang latah membeli dan menyetok bahan makanan untuk ketersediaan beberapa minggu kedepan, selain itu faktanya beberapa pasar-pasar ditutup sementara karena sepi, akses distribusi dari desa ke kota mengalami hambatan, harga jual petani pun ikut berdampak, saya di beri info dari teman yang berprofesi sebagai petani sayuran di wilayah Jawa Tengah, salah satu contoh dampaknya adalah daun seledri yang biasa dijual 8.000 – 10.000 / kg nya, sekarang hanya di harga 2.500 – 3.000/ kg saja. Ini baru salah satu contoh, belum lagi dengan komoditi pertanian lainnya.

Di lain wilayah seperti di salah satu wilayah di Jawa Barat mengalami hal yang sama. Kamis malam lalu (26/3) saya dihubungi oleh kolega saya dari komunitas Rumah Millenials melalui Direct Message (DM) instagram, beritanya cukup mengagetkan. Petani di wilayah Ciwidey mengalami kesulitan menjual komoditas hasil panennya. Sontak, ini membuat panik.

Sebelum saya menjawab pesan dari kolega tersebut, saya terlebih dahulu menghubungi Pak Boga yang saat ini merupakan Kabiro Humas dan Media Kementerian Pertanian Republik Indonesia untuk menanyakan program yang sudah existing dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Saya sungguh bersyukur, Indonesia banyak orang-orang yang memiliki jiwa dermawan.

Alhamdulillah, teman-teman yang tergabung dalam sebuah Group Start-up bidang pertanian juga melakukan tindakan cepat untuk saling membantu menghubungkan petani tersebut untuk dibukakan jalannya pada pasar (market) yang sedang membutuhkan.

Saya dan teman-teman komunitas Aku Petani Indonesia pun mencoba mencari tahu, kenapa hal ini bisa terjadi. Kami kini memahami, bahwa hasil panen yang semula seharusnya di kirimkan ke hotel, villa, dan beberapa pembeli dalam skala besar seperti untuk catering acara pernikahan, sekarang satu persatu mulai ditunda bahkan dibatalkan.  Tentu dampak ini wajar di masyarakat, karena arahan pemerintah sangat jelas untuk melakukan Physical Distancing untuk meminimalisir bertemunya orang dalam skala yang banyak dalam suatu tempat.

Tentu hal ini dapat menjadi potensi masalah besar yang akan di hadapi oleh masyarakat di tengah melandanya Virus Covid – 19 jika tidak tertangani dan tidak adanya kolaborasi yang apik dari berbagai pihak. Kemarin (31/3) Pemerintah telah memutuskan mengambil langkah Pembatasan Sosial Skala Besar (PSSB), saya memprediksi keputusan ini akan memberikan efek kejut terhadap ekonomi khususnya sektor pangan. Screening orang yang masuk dari wilayah satu ke wilayah lain tentu sangat baik dilakukan untuk memutus rantai persebaran virus corona. Tetapi disatu sisi, aktivitas masyarakat di daerah berhenti dan hanya mengandalkan ekonomi lokal.

Kebijakan tersebut sudah berdampak kepada petani  sayur di lereng merbabu, mas Shofyan pemilik dari Sayur Organik Merbabu (SOM) yang kebetulan rekan petani sayur kami mengatakan “karena sedang diberlakukannya Physical Distancing pasar induk & pasar tradisional jadi sepi sehingga tutup sementara, akibatnya sayuran yang dipetani tidak bisa tersalurkan, termasuk ditutupnya akses masuk ke kota besar karena zona merah seperti di Jakarta, harga jualnya jadi benar-benar anjlok”.  

Tentu ini menjadi masukan kepada beberapa stakeholders termasuk kami komunitas yang bergerak di bidang pertanian. Apabila harga jual petani semakin rendah tentu petani akan tidak bergairah untuk bercocok tanam, karena mereka akan mengalami kerugian nantinya. Lalu, apabila akses distribusi ke kota dibatasi karena adanya Pembatasan Sosial Skala Besar (PSSB) petani juga akan bingung menjual ke siapa, apalagi beberapa pasar ditutup sementara karena sepi. Pertanyaannya, jadi masyarakat khususnya di perkotaan akan memperoleh bahan makanan dari mana di tengah mewabahnya virus Covid-19 ini?

Kolaborasi Aksi

Tentu saya sangat paham, setiap kebijakan publik yang diambil pasti tidak akan dapat memuaskan segala pihak di masyarakat. Tulisan ini bukanlah untuk menjustifikasi kegagalan atau keberhasilan sebuah kebijakan publik, tetapi saya ingin memberikan gambaran potensi masalah yang akan terjadi, selain itu tentu kami akan memberikan berbagai usulan program kolaborasi yang dapat menjadi dasar pertimbangan bagi para pemangku kebijakan.  

Kami mengusulkan ada beberapa program kolaborasi yang dapat dijalankan untuk sektor pangan. Kalau dari sisi medis, dr. Tirta (Owner Shoes and Care), Kanda drg. Arief Roshyid (Ketum PB HMI 2013-2015), Fathur (Presiden Mahasiswa BEM KM UGM 2019) beserta teman-teman di gerakan Kurir Kebaikan telah melakukan gerakan sosial yang terstruktur dan massive dengan berbagai program seperti pemberian penggalangan dana bersama influencer, penyemprotan disinfektan di berbagai titik rumah ibadah, pemberian makan yang bergizi bagi tenaga medis di garda terdepan serta pemasangan bilik disinfektan (disinfekta chamber).

Kami dan teman-teman yang selama ini bergerak di sektor pertanian juga akan melakukan program sosialisasi melalui key farmer kepada petani di desa-desa begitu juga pemberian panduan secara online tentang cara preventif dengan melakukan pola hidup bersih dan sehat,  kami juga sedang mengusahakan pemberian masker kepada petani, mengingat para petani masih melakukan kegiatan di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan pangan negeri ini.

Diluar itu, kami mencoba untuk menghubungkan para petani ke pihak pemerintah dan start-up pertanian yang bergerak di sektor ritel, untuk dapat membeli langsung dari petani dengan harga yang wajar. Distribusi bahan makanan seperti sayuran dan buah-buahan juga dapat diberikan akses masuk ke kota untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan. Disinilah intervensi pemerintah diperlukan.

Langkah lain yang saat ini sudah dilakukan, yaitu : para perusahaan ritel dan start-up yang bergerak di sektor ritel telah memberikan layanan pengiriman online agar masyarakat dapat tetap dirumah,halini tentu dapat mengurangi resiko penularan virus yang lebih besar.

Kami berharap Pemerintah melalui tim Satgas pangan / Kemeterian Pertanian dapat memberikan informasi ketersediaan pangan secara real time kepada masyarakat melalui website. Tujuannya agar masyarakat lebih merasa nyaman dengan informasi tersebut.

Kesehatan Petani

Dari fenomena pandemik Covid 19, kita semua mau tidak mau harus mengakui dan menghargai setinggi-tingginya jasa para Dokter serta tenaga medis yang menjadi garda terdepan berjuang melawan virus ini. Apalagi mereka harus berjuang di tengah keterbatasan alat-alat pendukung yang mana semakin sulit dicari, seperti masker dan APD.

Saya harus bilang, ada pahlawan yang terlupakan di tengah pandemik Covid 19 ini, yaitu petani sebagai penyedia pangan. Pagi ini (31/3) saya melakukan komunikasi melalui Whatsapp kepada sahabat saya yang yaitu Kang Nur Agis Aulia (Owner Jawara Farm) yang kebetulan saat ini beliau juga merupakan anggota dewan di DPRD Kota Serang yang memang jauh sebelum beliau di amanahi menjadi anggota dewan, beliau merupakan seorang petani.

Percakapan pagi ini menyimpulkan bahwa petani di daerah masih melakukan kegiatan seperti biasanya, petani juga masih belum menggunakan masker atau penggalakan rajin cuci tangan. Kita telah mencatat, virus ini mudah sekali menyebar, tidak menutup kemungkinan para petani di desa juga bisa terkena dampak virus Covid – 19 ini. 

Kita harus melakukan sosialisasi dan pencegahan hingga tahap ke Desa. Transmisinya harus di tekan seminimal mungkin, dengan melakukan Physical Distancing di Desa yang lebih adil.  Tidak terkecuali dia sehat atau sakit, petani juga harus dilindungi dari virus corona. Kita tidak boleh panik dan parno berlebihan, karena ahli pernah katakan bahwa kepanikan dan stres dapat berdampak pada penurunan imun tubuh manusia.

4 thoughts on “Kesehatan Petani, Ketersediaan & Keadilan Harga Pangan Di Tengah Pandemi Covid 19”

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.